Selasa, 26 September 2017

Cerita Anak



Berbagi Rezeki Di Hutan
Nurlaela

Suatu siang di hutan yang sangat luas dengan tumbuhan yang subur, hiduplah lima ekor binatang. Walaupun karakter mereka berbeda, mereka tetap berteman baik.
Saat itu Monyet sedang pergi berjalan-jalan untuk mencari makanan untuk makan malam bersama, Monyet mengambil lima buah pisang. Setelah itu, di persimpangan jalan Monyet bertemu dengan Macan yang juga sedang mencari makanan. Macan sudah mendapatkan mangsanya yaitu seekor kelinci.
Monyet bertanya pada Macan, “Hai Macan, ternyata kau sudah mendapatkan seekor kelinci ya?”
Macan menjawab, “Iya, makanan ini untuk makan malam”.
Monyet tidak menjawab apa-apa karena dia pikir, makanan yang dibawa Macan akan dibagikan kepada teman-temannya.
Di tempat yang lain, Gajah pun bekerja keras mencari makanan berkeliling hutan. Akhirnya Gajah mendapatkan lima buah kelapa dan sepuluh buah kacang. Gajah sangat bergembira karena akan berkumpul bersama teman-temannya untuk makan malam. Gajah pun bernyanyi sambil membawa makanan menuju rumahnya.
Lalalala… Lalalala…
Ketika Gajah sudah tiba di rumahnya, Gajah melihat Ular sedang diam menunggu di depan pintu rumah Gajah.
Gajah bertanya, “Hai Ular, apa yang sedang kau lakukan di sini?”
Ular menjawab, “Aku sedang menunggumu. Aku ingin kau menemaniku mencari makanan di hutan”.
Gajah berkata sambil menunjukkan makanannya pada Ular, “Aku sudah mencari makanan tadi, semoga makanan ini cukup untuk kita bersama”.
Ular pun tersenyum dan berkata, “Wah, banyak sekali. Tapi sepertinya aku membutuhkan daging”.
Gajah berkata, “Baiklah, mari aku temani kau mencari daging”.
Setelah Gajah menaruh makanannya di dalam rumah, Gajah pun pergi bersama Ular untuk mencari daging. Gajah dan Ular pergi ke sungai, berharap mendapatkan daging ikan, tapi tak didapatkannya pula.
Gajah dan Ular pun terus mencari daging, ditengah perjalanan mereka bertemu Singa yang sedang membawa makanan juga. Singa sudah mendapatkan mangsanya yaitu seekor anak rusa.
Ular bertanya pada Singa, “Wah Singa, kau sudah mendapatkan seekor anak rusa?”
Singa menjawab, “Iya Ular, semoga makanan yang aku bawa cukup untuk makan malam kita bersama nanti”.
Ular pun tersenyum lagi dan berkata dalam hatinya, “Asiikk, aku tak perlu mencari mangsa untuk makanan nanti malam, akan aku habiskan makanan kalian”.
Ular kemudian berkata pada Gajah, “Gajah, aku sudah lelah mencari makanan, lebih baik kita pulang saja dulu”.
Tanpa berpikir apa-apa Gajah pun setuju dengan ajakan Ular untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Waktu malam sudah tiba, Gajah, Ular, Macan dan Monyet segera pergi menuju rumah Singa. Makan malam kali ini berkumpul di rumah Singa. Setelah mereka tiba di rumah Singa, masing-masing dari mereka menaruh makanannya di meja makan. Gajah menaruh lima buah kelapa dan sepuluh buah kacang. Monyet menaruh lima buah pisang. Singa pun menaruh daging anak rusa yang sudah direbus tadi sore di dapurnya. Ular hanya diam saja. Sedangkan macan masih memegang daging kelincinya.
Singa berkata pada Ular, “Hai Ular, makanan apa yang kau bawa malam ini?”
Ular menjawab dengan terbata-bata, “Aaakuu tidak membawa makanan apa pun”.
Kemudian Singa bertanya pada Macan, “Hai Macan, mengapa kau tak menaruh makananmu itu di meja?”
Macan menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan membagikan makanan ini terutama pada Ular”.
Singa, Monyet dan Gajah pun berpikir bagaimana caranya supaya acara makan malam ini berjalan dengan baik. Monyet memberikan idenya untuk membagikan setiap makanan yang dibawanya.
Monyet berkata, “Gajah kan membawa lima buah kelapa dan sepuluh buah kacang, maka kita bagi makanan ini kepada Gajah, Singa, Monyet, Ular dan Macan?”
Gajah menjawab, “Aku setuju sekali, aku memang akan membagikan makanan yang kubawa untuk kita berlima”.
Singa pun berkata, “Aku juga memang akan membagikan dagingku untuk kalian berlima”.
Monyet pun tidak ketinggalan untuk membagikan lima buah pisangnya untuk teman-temannya.
Singa berkata pada Macan, “Macan, apa kau ingin membagikan makananmu pada kita?”
Walaupun dengan terpaksa, akhirnya Macan mau membagikan makanannya karena melihat Gajah, Singa dan Monyet rela membagikan makanannya.
Ular menunduk malu karena dia telah salah, berniat menghabiskan makanan teman-temanya. Namun Gajah berusaha menghibur Ular dengan memberikan nasihat supaya jangan sekali-kali lagi kita mengulangi kesalahan kita. Ular pun meminta maaf pada Singa, Gajah, Monyet dan Macan karena sifatnya yang rakus. Macan pun demikian, Macan meminta maaf karena sudah pelit pada teman-temannya. Singa, Gajah, Monyet pun berlapang dada memaafkan mereka.
Nah teman, hendaklah kita mempunyai niat yang baik untuk berbagi rezeki yang kita punya kepada keluarga, tetangga, kerabat dekat dan sahabat. Karena kebaikan yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri. 

Selasa, 18 Juli 2017

Celotehan Bisnis



Review Bisnis Cemilan Part 1 : Basreng


Guys, apa yang kalian lakukan ngeliat foto cemilan atau sengaja lewat di sekitar perjalanan? Wow, rasanya ingin nyemil, ngunyah, nelen sampai di perut. Yess, secara yang nulis review ini doyan makan, suka ngemil, pengen kenyang haha tapi badan ga gemuk, yah lumayan ga kurus.

Berawal dari suka jajan makanan dan bersahabat dengan tukang jual jajanan, eh Doski ngajak saya belanja snack ke pasar. Blah bloh gitu tadinya, blank mau usaha snack apaan. Namun Doski udah bilang yang gampang dan yang disuka orang banyak, hmm makanan pedes lah saya bilang plus beberapa snack kesukaan saya.

Setelah kita belanja, mulai package snack ke plastik, mikir keras, harganya berapa boo! ‘Gue nembak’, dan itu juga ada perseteruan lucu dibalik harga jual, saya ego, keponakan kecilku bilang kalau snack saya terlalu mahal. Tapi saya cuek aja, lurus, nyoba dengan harga yang saya kira udah kece di pasaran. And then, ternyata saya jual paksa, guys.

Kenapa sih saya pertahanin harga mahal? Ekspektasi jawabannya. Ngayal supaya dapat untung banyak hehe. Sulit guys kalau berekspektasi dulu sebelum berusaha, harapan bakal ga sesuai dengan kenyataan, dan proses yang didapat pun ga begitu mudah. Akhirnya saya ikutin saran dari sahabat saya kalau snack itu jangan jual mahal-mahal.

Dari snack pasar yang saya jual paksa itu, ada kritik kalau tuh bumbu lama-lama pahit, weiiss ga sepahit perjuangan hidup kali ya hehe. Doski bilang “coba bikin sendiri, mpo”. What? Basreng kan bukan makanan favorit saya. Dulu kalau kakakku goreng basreng, bau ikannya anyir sampai mangpet di hidung. Dari situ saya mikir, saya lawan, runtuhkan ego, saya pergi ke pasar, cari basreng yang bagus dan berkualitas. Pas banget di toko langganan saya belanja snack, dia juga jual basreng basahnya, saya coba pilih beberapa basreng di situ, klik ke basreng yang seball itu, saya cium, iya bau ikan tapi tidak menyengat. Sampailah saya  di rumah, saya mikir gimana caranya basreng ini biar ga bau anyir dan renyah dimakan.

Beruntungnya saya, punya keponakan sekolah koki, penasehat utama dalam hal makanan, lidahnya dijamin peka sama rasa, dan ngerti kualitas makanan. Saya terima sarannya dengan perlahan dan baik-baik. Walhasil, bareng berhasil saya proses untuk pertama kalinya pelanggan dari Jakarta, teman keponakan. Basreng ini diproses dengan 5 kali kerja. Karena tadinya ada line di pikiran saya kalau snack saya mahal, saya tambah gram, harga tetep goceng hehe. Semua cemilan saya jual online, berhubung belum punya warung.

Okey guys, berikut celotehan bisnis mpo kali ini, semoga bermanfaat. Next review part 2 saya lanjutkan kalau saya lagi santai.

Rabu, 19 April 2017

EMAK



“EMAK”

Pagi ini tiba-tiba saya sangat merindukan nenek saya yang sudah meninggal. Tersenyum kecil saya mengingat wajahnya sambil kupejamkan mata. Nenek dan kakek saya tinggal lama di bandung dari sejak kecilnya. 

Saya selalu menyahut kata sapaan emak, maak, itu mengingatkan saya pada nenek. Kami memang memanggilnya “emak”. Emak adalah sosok yang baik hati, sabar dan penyayang. Emak sangat menyayangi anak, menantu, semua cucu dan cicitnya.

Rumah emak dan rumah bapak memang berjarak jauh, kurang lebih 6 km. Keluarga kami memang berkumpul dalam satu titik itu, bibi dan paman pun tinggal di lingkungan itu kecuali bapak saya yang tinggal satu lingkungan bersama adik emak saya. Sayang sejuta sayang, kini lingkungan tempat kami berkumpul dan bermain sudah menjadi gedung properti yang menjulang ke awan. Padahal mengapa kita tidak bisa mempertahankan tanah yang sudah kita pijak sejak lahir? Lagi-lagi alasan globalisasi, begitulah saat ini paradigma masyarakat saat ini. Akan lebih baiknya jika kita bisa menaturalisasikan tanah yang kita pijak, seolah-olah hal ini akan menjadi potret kehidupan bagi masa yang akan datang
Kembali berbicara soal emak, keluarga bapak biasa berkunjung seminggu sekali untuk menemui emak dan abah serta saudaranya di sana. Ketika itu saya masih kecil, setiap kali saya berkunjung emak menyambut kami dengan baik. Hmm saya masih ingat ketika saya tiba di rumah emak, emak langsung tergesa-gesa pergi ke warung untuk membeli makanan terutamanya chiki “T*RO”, chiki ini adalah salah satu chiki yang legendaries.

Emak saya orang yang sederhana dan tradisional. Pakainnya pun masih kebaya “jadul” dan kain samping dan sarung yang bercorak konservatif. Saya pun mengenal “kutang nini” dari beliau, karena setiap kali mengeluarkan uang, emak menyimpan uangnya di saku “kutangnya”. Tidak lupa, emak pun seorang yang relijius, beliau tidak pernah meninggalkan ibadah ritualnya, beliau menyeru hal itu kepada anak-anak dan cucu-cucunya.

Pada satu waktu ketika saya menginap di rumahnya, saya seringkali menangis ingin pulang ke rumah bapak untuk ditemani tidur oleh mamah. Namun emak berusaha menepis tangisan saya dengan membujuk saya “jepp nya, engke enjing urang uih, dianteur ka bumi”. Saya memang tidur bersama emak di kamarnya sampai lelap dan terbangun di subuh hari, karena emak sudah berada di dapur sejak fajar.

Tahukah kalian siapa yang memberi nama saya ini? “Emak”. Ya betul. Emak yang memberi saya nama “Nurlaela”. Akan tetapi sebelum nama “Nurlaela”, emak memberi nama “Nurela” yang artinya wanita yang rela, bisa artikan juga wanita yang ridho. Namun nama itu diadaptasi kembali menjadi “Nurlaela” yang artinya cahaya malam. Sungguh malam bagi saya adalah tempat yang paling banyak dengan cahaya. Ya di sana ada banyak bintang dan satu bulan, cahaya yang natural. Dapat dibayangkan jika bumi gelap gulita tanpa adanya bintang yang gemerlap dan bulan yang yang terang, mungkin kita tidak bisa melihat apa pun dengan jelas.

Emak, begitu diri ini menghormatimu sampai saat ini. Saya selalu mengirimimu doa-doa terindah supaya emak mendapatkan rahmat Alloh di akhirat sana. Saya selalu bermimpi bertemu denganmu, walau ketika saya menyapa, emak tak menyahut. Emak langkahmu yang perlahan itu meninggalkan bayang-bayang kebajikan bagi keturunanmu ini. Emak, emak, emak.

Senin, 27 Maret 2017

Jeda, Nafas Pelan!



Keheningan Dalam Diri

Seringkali dalam hidup ini kita menghadapi banyak persoalan hidup, akibatnya kita pun mendapati efek dari tekanan tersebut. Stres! Acapkali kita rasakan apabila kita belum mendapatkan penyelesaian persoalan atau yang disebut making decision. Hal ini seolah-olah angin ribut di kepala kita, dan goncangan dalam hati kita. Semua persoalan diinput melalui mata, telinga dan ubun-ubun, kemudian diolah oleh akal sehat dan hati, maka akan menghasilkan keputusan yang positif. Sebaliknya jika akal tidak bisa mengolah dengan baik maka hati pun akan menjadi keruh, itulah keputusan yang negatif. Namun ada kalanya ketika persoalan sulit dipecahkan dengan pikiran atau logika, maka mencoba untuk menyelesaikannya dengan hati (deep within yourself). Dalam hal ini, kebutuhan yang paling penting adalah keheningan. Keheningan dalam diri ini dilakukan oleh diri sendiri. Kebanyakan orang menyebutnya dengan meditasi, jika dalam islam hal tersebut dinamakan dzikir bi qolbu (dzikir dengan hati).

Bagaimana melakukan keheningan dalam diri? Setelah melalui pengalaman dan percobaan saat ini, metode ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1.       Mengenal diri sendiri atau Finding yourself
Awali semua langkah dengan berdoa memohon hanya kepada Sang Maha Lembut. Langkah awal adalah menemukan spot dan suasana yang hening atau tidak ribut, seperti dalam kamar setelah solat tahajud (sepertiga malam) atau bisa saja dimana dan waktu kapan pun asal dalam keadaan fokus. Setelah itu, duduk atau terlentang, diam, sabar, fokus (hanya ada diri kita sendiri) dan pejamkan mata perlahan, lalu pegang dada dengan kedua tangan ditumpuk, dan rasakan detak jantung, hela nafas perlahan serta hangatnya suhu badan.
Kemudian runut kembali arti hidup dan tujuan hidup kita di dunia, sesuai dengan isi al-Quran bahwa tujuan hidup makhluk Alloh adalah ibadah atau tunduk pada perintah-Nya. Semua ibadah yang dilakukan di dunia ini haruslah priority, oriented to Alloh.
2.       Beristigfar (apologized) dan meluruskan niat
Langkah yang berikutnya adalah memohon ampunan kepada Alloh Yang Maha Menerima Taubat untuk kemudian meluruskan niat yang baik atau hanif. Semua apa yang diperbuat tergantung pada niat, tekadkan azzam dalam diri. Hal ini berfungsi untuk meminimalisir hawa nafsu, karena jika persoalan diselesaikan dengan hawa nafsu dan kekhawatiran akan duniawi maka hasilnya akan merugikan diri sendiri even untuk orang lain.
3.       Memperbaiki hati
Hati adalah sesuatu yang paling berharga, tempatnya keimanan. Memperbaiki hati membuat hati menjadi bening atau memurnikan kembali hati atau ikhlas. Teguhkan hati kita hanya kepada Rabb, mendominasikan atau condong hanya kepada Ilaah, Alloh SWT.
4.       Melepaskan, “Let it go”
Ketika persoalan belum dapat terselesaikan, maka cara cepatnya adalah melepaskan “let it go”. Kita adalah peran, Rabb-lah sutradara dan pemilik segala apa yang ada di langit dan di bumi, Dia mengetahui kehidupan dunia dan akhirat, Dia juga yang menjadikan kita menangis dan tertawa. Maka dari itu, serahkanlah kembali segala urusan kita pada-Nya, karena Rabb-lah sumber dari segala solusi yang paling terbaik, biarkanlah Alloh Sang Maha Mentakdirkan yang menyelesaikannya.
5.       Memaafkan (forgiveness)
Yang terakhir adalah tindakan memaafkan atau forgiveness. Dalam al-Quran memaafkan adalah lebih baik dari sedekah materi. Forgiveness to yourself or other people.
Jika merasa sudah lebih baik, maka bukalah mata secara perlahan. Lalu bernafas dengan pelan dan tenang.

Keheningan dalam diri ini memang sukar namun mesti dilakukan supaya kita bisa merefresh kondisi jiwa kita. Berusaha optimis kepada Alloh, tersenyum dan bersyukur. Lakukan metode ini setiap kali kita sedang merasa lelah, bosan, emosional even kita dalam keadaan lapang sekalipun. Sekian share it kali ini, selamat mencoba, semoga bermanfaat. Try it now, me myself and you yourself!
Wallohualam.
Allohu akbar.

BATAL PUASA (CERPEN 1000 KATA)

Hari itu langit sore memerah di ujung rumahnya. Aku merasa malu. Kejadian dua puluh tahun lalu, aku dan sahabat kecilku, tertutup lembaran s...