Rabu, 19 April 2017

EMAK



“EMAK”

Pagi ini tiba-tiba saya sangat merindukan nenek saya yang sudah meninggal. Tersenyum kecil saya mengingat wajahnya sambil kupejamkan mata. Nenek dan kakek saya tinggal lama di bandung dari sejak kecilnya. 

Saya selalu menyahut kata sapaan emak, maak, itu mengingatkan saya pada nenek. Kami memang memanggilnya “emak”. Emak adalah sosok yang baik hati, sabar dan penyayang. Emak sangat menyayangi anak, menantu, semua cucu dan cicitnya.

Rumah emak dan rumah bapak memang berjarak jauh, kurang lebih 6 km. Keluarga kami memang berkumpul dalam satu titik itu, bibi dan paman pun tinggal di lingkungan itu kecuali bapak saya yang tinggal satu lingkungan bersama adik emak saya. Sayang sejuta sayang, kini lingkungan tempat kami berkumpul dan bermain sudah menjadi gedung properti yang menjulang ke awan. Padahal mengapa kita tidak bisa mempertahankan tanah yang sudah kita pijak sejak lahir? Lagi-lagi alasan globalisasi, begitulah saat ini paradigma masyarakat saat ini. Akan lebih baiknya jika kita bisa menaturalisasikan tanah yang kita pijak, seolah-olah hal ini akan menjadi potret kehidupan bagi masa yang akan datang
Kembali berbicara soal emak, keluarga bapak biasa berkunjung seminggu sekali untuk menemui emak dan abah serta saudaranya di sana. Ketika itu saya masih kecil, setiap kali saya berkunjung emak menyambut kami dengan baik. Hmm saya masih ingat ketika saya tiba di rumah emak, emak langsung tergesa-gesa pergi ke warung untuk membeli makanan terutamanya chiki “T*RO”, chiki ini adalah salah satu chiki yang legendaries.

Emak saya orang yang sederhana dan tradisional. Pakainnya pun masih kebaya “jadul” dan kain samping dan sarung yang bercorak konservatif. Saya pun mengenal “kutang nini” dari beliau, karena setiap kali mengeluarkan uang, emak menyimpan uangnya di saku “kutangnya”. Tidak lupa, emak pun seorang yang relijius, beliau tidak pernah meninggalkan ibadah ritualnya, beliau menyeru hal itu kepada anak-anak dan cucu-cucunya.

Pada satu waktu ketika saya menginap di rumahnya, saya seringkali menangis ingin pulang ke rumah bapak untuk ditemani tidur oleh mamah. Namun emak berusaha menepis tangisan saya dengan membujuk saya “jepp nya, engke enjing urang uih, dianteur ka bumi”. Saya memang tidur bersama emak di kamarnya sampai lelap dan terbangun di subuh hari, karena emak sudah berada di dapur sejak fajar.

Tahukah kalian siapa yang memberi nama saya ini? “Emak”. Ya betul. Emak yang memberi saya nama “Nurlaela”. Akan tetapi sebelum nama “Nurlaela”, emak memberi nama “Nurela” yang artinya wanita yang rela, bisa artikan juga wanita yang ridho. Namun nama itu diadaptasi kembali menjadi “Nurlaela” yang artinya cahaya malam. Sungguh malam bagi saya adalah tempat yang paling banyak dengan cahaya. Ya di sana ada banyak bintang dan satu bulan, cahaya yang natural. Dapat dibayangkan jika bumi gelap gulita tanpa adanya bintang yang gemerlap dan bulan yang yang terang, mungkin kita tidak bisa melihat apa pun dengan jelas.

Emak, begitu diri ini menghormatimu sampai saat ini. Saya selalu mengirimimu doa-doa terindah supaya emak mendapatkan rahmat Alloh di akhirat sana. Saya selalu bermimpi bertemu denganmu, walau ketika saya menyapa, emak tak menyahut. Emak langkahmu yang perlahan itu meninggalkan bayang-bayang kebajikan bagi keturunanmu ini. Emak, emak, emak.

BATAL PUASA (CERPEN 1000 KATA)

Hari itu langit sore memerah di ujung rumahnya. Aku merasa malu. Kejadian dua puluh tahun lalu, aku dan sahabat kecilku, tertutup lembaran s...