Senin, 11 Agustus 2025

BATAL PUASA (CERPEN 1000 KATA)

Hari itu langit sore memerah di ujung rumahnya. Aku merasa malu. Kejadian dua puluh tahun lalu, aku dan sahabat kecilku, tertutup lembaran sprei berwarna putih tulang. Sahabat kecilku bernama Wulan.

"Tika, sini!" Wulan memanggilku dari balik sprei itu.

Saat itu aku sedang duduk di sebuah bangku besi sambil bermain boneka berbie. Aku pun menghampirinya.

"Ada apa, Wulan?" tanyaku tersenyum.

"Aku lagi batal puasa ini. Mau ga?" tanya Wulan sambil tertawa.

"Kamu makan apa?" tanyaku lagi.

"Makan dodol goreng. Tapi kamu jangan bilang ke mamahku ya?" kata Wulan memelas padaku.

"Aku juga mau makan dodol gorengnya," pintaku.
"Tapi kamu juga jangan bilang ke mamahku ya?"

Saat itu kita masih berumur delapan tahun. Apa yang kita lakukan dahulu ketika kecil memang konyol. Namun setelahnya kita sadar, kalau kebohongan kita itu tidak baik. Dan hal yang paling menyenangkan saat bulan Ramadhan adalah kita genap berpuasa tanpa batal.

Sekarang kami sudah berpisah, Wulan dibawa oleh suaminya ke Ambon untuk menemani perjalanan dinas. Kami hanya berkomunikasi lewat video call, dan sampai saat ini kami selalu saling merindukan.

                                                                                                                               Gambar dari Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BATAL PUASA (CERPEN 1000 KATA)

Hari itu langit sore memerah di ujung rumahnya. Aku merasa malu. Kejadian dua puluh tahun lalu, aku dan sahabat kecilku, tertutup lembaran s...