“EMAK”
Pagi ini tiba-tiba saya sangat
merindukan nenek saya yang sudah meninggal. Tersenyum kecil saya mengingat
wajahnya sambil kupejamkan mata. Nenek dan kakek saya tinggal lama di bandung
dari sejak kecilnya.
Saya selalu menyahut kata sapaan
emak, maak, itu mengingatkan saya pada nenek. Kami memang memanggilnya “emak”. Emak
adalah sosok yang baik hati, sabar dan penyayang. Emak sangat menyayangi anak,
menantu, semua cucu dan cicitnya.
Rumah emak dan rumah bapak memang
berjarak jauh, kurang lebih 6 km. Keluarga kami memang berkumpul dalam satu
titik itu, bibi dan paman pun tinggal di lingkungan itu kecuali bapak saya yang
tinggal satu lingkungan bersama adik emak saya. Sayang sejuta sayang, kini
lingkungan tempat kami berkumpul dan bermain sudah menjadi gedung properti yang
menjulang ke awan. Padahal mengapa kita tidak bisa mempertahankan tanah yang
sudah kita pijak sejak lahir? Lagi-lagi alasan globalisasi, begitulah saat ini paradigma
masyarakat saat ini. Akan lebih baiknya jika kita bisa menaturalisasikan tanah
yang kita pijak, seolah-olah hal ini akan menjadi potret kehidupan bagi masa
yang akan datang
Kembali berbicara soal emak, keluarga
bapak biasa berkunjung seminggu sekali untuk menemui emak dan abah serta saudaranya
di sana. Ketika itu saya masih kecil, setiap kali saya berkunjung emak
menyambut kami dengan baik. Hmm saya masih ingat ketika saya tiba di rumah
emak, emak langsung tergesa-gesa pergi ke warung untuk membeli makanan
terutamanya chiki “T*RO”, chiki ini adalah salah satu chiki yang legendaries.
Emak saya orang yang sederhana
dan tradisional. Pakainnya pun masih kebaya “jadul” dan kain samping dan sarung
yang bercorak konservatif. Saya pun mengenal “kutang nini” dari beliau, karena
setiap kali mengeluarkan uang, emak menyimpan uangnya di saku “kutangnya”.
Tidak lupa, emak pun seorang yang relijius, beliau tidak pernah meninggalkan
ibadah ritualnya, beliau menyeru hal itu kepada anak-anak dan cucu-cucunya.
Pada satu waktu ketika saya
menginap di rumahnya, saya seringkali menangis ingin pulang ke rumah bapak
untuk ditemani tidur oleh mamah. Namun emak berusaha menepis tangisan saya
dengan membujuk saya “jepp nya, engke enjing urang uih, dianteur ka bumi”. Saya
memang tidur bersama emak di kamarnya sampai lelap dan terbangun di subuh hari,
karena emak sudah berada di dapur sejak fajar.
Tahukah kalian siapa yang memberi
nama saya ini? “Emak”. Ya betul. Emak yang memberi saya nama “Nurlaela”. Akan
tetapi sebelum nama “Nurlaela”, emak memberi nama “Nurela” yang artinya wanita
yang rela, bisa artikan juga wanita yang ridho. Namun nama itu diadaptasi
kembali menjadi “Nurlaela” yang artinya cahaya malam. Sungguh malam bagi saya
adalah tempat yang paling banyak dengan cahaya. Ya di sana ada banyak bintang
dan satu bulan, cahaya yang natural. Dapat dibayangkan jika bumi gelap gulita
tanpa adanya bintang yang gemerlap dan bulan yang yang terang, mungkin kita
tidak bisa melihat apa pun dengan jelas.
Emak, begitu diri ini
menghormatimu sampai saat ini. Saya selalu mengirimimu doa-doa terindah supaya
emak mendapatkan rahmat Alloh di akhirat sana. Saya selalu bermimpi bertemu
denganmu, walau ketika saya menyapa, emak tak menyahut. Emak langkahmu yang
perlahan itu meninggalkan bayang-bayang kebajikan bagi keturunanmu ini. Emak,
emak, emak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar