Senin, 27 Maret 2017

Jeda, Nafas Pelan!



Keheningan Dalam Diri

Seringkali dalam hidup ini kita menghadapi banyak persoalan hidup, akibatnya kita pun mendapati efek dari tekanan tersebut. Stres! Acapkali kita rasakan apabila kita belum mendapatkan penyelesaian persoalan atau yang disebut making decision. Hal ini seolah-olah angin ribut di kepala kita, dan goncangan dalam hati kita. Semua persoalan diinput melalui mata, telinga dan ubun-ubun, kemudian diolah oleh akal sehat dan hati, maka akan menghasilkan keputusan yang positif. Sebaliknya jika akal tidak bisa mengolah dengan baik maka hati pun akan menjadi keruh, itulah keputusan yang negatif. Namun ada kalanya ketika persoalan sulit dipecahkan dengan pikiran atau logika, maka mencoba untuk menyelesaikannya dengan hati (deep within yourself). Dalam hal ini, kebutuhan yang paling penting adalah keheningan. Keheningan dalam diri ini dilakukan oleh diri sendiri. Kebanyakan orang menyebutnya dengan meditasi, jika dalam islam hal tersebut dinamakan dzikir bi qolbu (dzikir dengan hati).

Bagaimana melakukan keheningan dalam diri? Setelah melalui pengalaman dan percobaan saat ini, metode ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1.       Mengenal diri sendiri atau Finding yourself
Awali semua langkah dengan berdoa memohon hanya kepada Sang Maha Lembut. Langkah awal adalah menemukan spot dan suasana yang hening atau tidak ribut, seperti dalam kamar setelah solat tahajud (sepertiga malam) atau bisa saja dimana dan waktu kapan pun asal dalam keadaan fokus. Setelah itu, duduk atau terlentang, diam, sabar, fokus (hanya ada diri kita sendiri) dan pejamkan mata perlahan, lalu pegang dada dengan kedua tangan ditumpuk, dan rasakan detak jantung, hela nafas perlahan serta hangatnya suhu badan.
Kemudian runut kembali arti hidup dan tujuan hidup kita di dunia, sesuai dengan isi al-Quran bahwa tujuan hidup makhluk Alloh adalah ibadah atau tunduk pada perintah-Nya. Semua ibadah yang dilakukan di dunia ini haruslah priority, oriented to Alloh.
2.       Beristigfar (apologized) dan meluruskan niat
Langkah yang berikutnya adalah memohon ampunan kepada Alloh Yang Maha Menerima Taubat untuk kemudian meluruskan niat yang baik atau hanif. Semua apa yang diperbuat tergantung pada niat, tekadkan azzam dalam diri. Hal ini berfungsi untuk meminimalisir hawa nafsu, karena jika persoalan diselesaikan dengan hawa nafsu dan kekhawatiran akan duniawi maka hasilnya akan merugikan diri sendiri even untuk orang lain.
3.       Memperbaiki hati
Hati adalah sesuatu yang paling berharga, tempatnya keimanan. Memperbaiki hati membuat hati menjadi bening atau memurnikan kembali hati atau ikhlas. Teguhkan hati kita hanya kepada Rabb, mendominasikan atau condong hanya kepada Ilaah, Alloh SWT.
4.       Melepaskan, “Let it go”
Ketika persoalan belum dapat terselesaikan, maka cara cepatnya adalah melepaskan “let it go”. Kita adalah peran, Rabb-lah sutradara dan pemilik segala apa yang ada di langit dan di bumi, Dia mengetahui kehidupan dunia dan akhirat, Dia juga yang menjadikan kita menangis dan tertawa. Maka dari itu, serahkanlah kembali segala urusan kita pada-Nya, karena Rabb-lah sumber dari segala solusi yang paling terbaik, biarkanlah Alloh Sang Maha Mentakdirkan yang menyelesaikannya.
5.       Memaafkan (forgiveness)
Yang terakhir adalah tindakan memaafkan atau forgiveness. Dalam al-Quran memaafkan adalah lebih baik dari sedekah materi. Forgiveness to yourself or other people.
Jika merasa sudah lebih baik, maka bukalah mata secara perlahan. Lalu bernafas dengan pelan dan tenang.

Keheningan dalam diri ini memang sukar namun mesti dilakukan supaya kita bisa merefresh kondisi jiwa kita. Berusaha optimis kepada Alloh, tersenyum dan bersyukur. Lakukan metode ini setiap kali kita sedang merasa lelah, bosan, emosional even kita dalam keadaan lapang sekalipun. Sekian share it kali ini, selamat mencoba, semoga bermanfaat. Try it now, me myself and you yourself!
Wallohualam.
Allohu akbar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BATAL PUASA (CERPEN 1000 KATA)

Hari itu langit sore memerah di ujung rumahnya. Aku merasa malu. Kejadian dua puluh tahun lalu, aku dan sahabat kecilku, tertutup lembaran s...